Total Tayangan Laman

Kamis, 29 Juni 2017

BIMBINGAN DAN KONSELING


 
Bimbingan Konseling, Bimbingan adalah Proses pemberian bantuan (process of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan ( agama dan budaya) sehingga men-capai kehidupan yang bermakna (berbahagia, baik secara personal maupun sosial)”

  Bimbingan konseling“Proses interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media : internet, atau telepon) dalam rangka mem-bantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalah yang dialaminya”.
Fungsi layanan Bimbingan dan Konseling
  • fungsi pemahaman
Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik
  • fungsi preventif
Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
  • fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
 
  • fungsi kuratif
Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)

Jenis – jenis Bimbingan dan Konseling
Bimbingan akademik
Bertujuan:
  1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
  2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
  3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif.
  4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
  5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
  6. Memiliki keterampilan membaca buku.
Bimbingan pribadi/social
Bertujuan:
  1. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
  2. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif.
  3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
  4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri
  5. Dapat mengelola stress
  6. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama
  7. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar
  8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh
  9. Memiliki rasa percaya diri
  10. Memiliki mental yang sehat
Bimbingan karier
Bertujuan:
  1. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan.
  2. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan.
  3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
  4. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan.
  5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir.
  6. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
  7. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
  8. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan.
Bimbingan keluarga
Bertujuan:
  1. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga
  2. Mampu memberdayakan diri secara produktif
  3. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga
  4. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling
  1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
  2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
  3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
  4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
  5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
  7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
  8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
  9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
  10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.

Pendidikan Anak Prasekolah



PENDIDIKAN ANAK PRA SEKOLAH 

A.      Mengenal Pendidikan Anak

Pendidikan pra sekolah adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak balita sebelum masuk sekolah taman kanak-kanak atau pendidikan dasar pertama yaitu sekolah dasar (SD). Sistem pendidikan ini juga sering dinamakan dengan pendidikan usia dini atau PAUD. Sistem pendidikan pra sekolah ini pertama kali dikenal oleh masyarakat ketika mereka mulai menyadari arti pentingnya mendidik anak sejak dini. Sehingga penyelenggaraannya juga lebih sering dilakukan oleh masyarakat sendiri melalui berbagai macam organisasi seperti PKK atau Lembaga Swadaya Masyarakat lain yang bergerak di bidang pendidikan.
Adapun tujuan utama dari pendidikan pra sekolah adalah untuk mengembangkan tingkat kecerdasan dan mental baik secara fisik dan rohani, serta membentuk karakter anak agar bisa mengatur perasaan emosi serta punya jiwa sosial yang tinggi. Sehingga ketika mereka masuk pada tingkat pendidikan dasar pertama, anak-anak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan lebih mandiri.
Mendidik anak sejak dini memang memang perlu melibatkan masyarakat umum bukan sekedar menjadi tugas orangtua semata. Karena rentang usia antara nol hingga enam tahun adalah masa emas dimana otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga mencapai 80%. Pada usia ini anak dengan mudah menyerap berbagai informasi melalui obyek yang dilihat dan diamati.
Namun pada usia ini pula anak belum bisa membedakan mana info yang baik dan yang tidak baik bagi mereka. Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak ini ketika melakukan pengamatan tidak terbatas pada lingkup keluarganya saja, namun sudah mulai merambah pada lingkungan luar rumah. Dari sini sistem pendidikan pra sekolah untuk mendidik anak sejak dini yang diadakan akan punya peran yang penting.
Sebab pendidikan pra sekolah atau PAUD akan mengajarkan pada anak untuk memilih mana info yang boleh dijadikan contoh dan info yang tidak boleh diserap. Sehingga mereka sudah bisa membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang merupakan pelanggaran serta tidak boleh ketika masuk pada pendidikan dasar pertama.



   Ciri-ciri anak TK dan prasekolah yang dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif.

1.      Ciri Fisik Anak Prasekolah Atau TK.
Penampilan maupun gerak gerik prasekolah mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.

2.      Ciri Sosial Anak Prasekolah atau TK
Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.

3.      Ciri Emosional Anak Prasekolah atau TK
Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

4.      Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK
cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten dengan cara sebagai berikut:
a.     Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.
b.      Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.
c.      Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

PENDIDIKAN  ANAK  BERKEBUTUHAN  KHUSUS

Dahulu istilah "ketidakmampuan" (disability) dan "cacat" (handicap) dapat dipakai bersama-sama. namun kedua istilah tersebut telah dibedakan. Disability adalah ketidakmampuan personal yang membatasi pelaksanaan fungsi seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan.

Para pendidik lebih sering menggunakan istilah "children with disabilities" ketimbang "disabled children". tujuannya adalah memberi penekanan pada anaknya, bukan pada cacat atau ketidakmampuannya. 
anak-anak yang menderita ketidakmampuan juga tidak lagi disebut sebagai "handicapped" (penyandang cacat), walaupun istilah Handicapping Condition masih digunakan untuk mendeskripsikan hambatan belajar dan hambatan fungsi dari seseorang yang mengalami ketidakmampuan. Misalnya, ketika anak yang menggunakan kursi roda tidak memiliki akses yang memadai untuk ke kamar mandi,transportasi, dan sebagainya, , maka ini disebut Handicapping condition.

Ketidakmampuan dan gangguan (disorders) dapat dikelompokan menjadi :

  1. Gangguan Indra  
Gangguan Indra mencakup gangguan atau kerusakan pengelihatan dan pendengaran.



  • Gangguan Pengelihatan. Beberapa murid mengalami problem pengelihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. jika anda melihat murid yang sering memcingkan matanya , mengucek matanya, membaca terlalu dekat, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksakan matanya. ( Boyles & Contadino, 1997). Tetapi ada segelintir murid menderita gangguan visual serius dan dikategorikan rusak pengelihatannya. Ini termasuk murid yang menderita low vision dan murid buta.
Anak-anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 ( pada skala Snallen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila dibantu lensa korektif. Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar. Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita gangguan atau kerusakan penglihatan ini adalah menentukan modalitas (seperti sentuhan atau pendengaran) yang dengannya murid dapat belajar dengan baik (Bowe, 2000).
GANGGUAN PENDENGARAN
  • Gangguan Pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas anda mungkin ada anak seperti ini yang belum terdeteksi. Jika anda melihat murid yang menempelkan telinganya ke speaker, sering minta pengulangan penjelasan, tidak mengikuti perintah, atau sering mengeluh sakit telinga, dingin dan alergi, suruh mereka untuk memeriksakan diri ke ahli THT ( Patterson & Wright, 1990). Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan di sini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran (Boyles & Contadino, 1997):
a.       Menempatkan semacam alat ditelinga
b.      Sistem hearing aids dan amplifikasi
c.       Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan radiomail.
GANGGUAN FISIK
Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
Gangguan Ortopedik
Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, dan sendi.
Cerebral Palsy
Gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas.
GANGGUAN BICARA DAN BAHASA
Gangguan bicara dan bahasa antara lain masalah dalam berbicara (seperti gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan bicara). Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar. Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan “gagap”. Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresi anak.
GANGGUAN PRILAKU DAN EMOSIONAL
Gangguan prilaku dan emosional terdiri dari problem serius dan terus menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat. Kira-kira 8% dari anak yang menderita ketidakmampuan dan memerlukan pendidikan tersendiri termasuk kedalam klasifikasi ini. Anak lelaki tiga kali lebih besar kemungkinannya mengalami gangguan ini dibandingkan anak perempuan (U.S. Department of Education, 2000). Ada bermacam macam istilah untuk mendeskripsikan gangguan emosional dan perilaku, antara lain emotional disturbances, behavior disorders, dan maladjusted children (Coleman & Webber, 2002).

   
 

Sabtu, 08 April 2017

Tugas Observasi Prasekolah di TK Perwanis

MINI PROJECT : PENDIDIKAN PRASEKOLAH DI TK PERWANIS

TOPIK      :  (9) Ruang Lingkup Pendidikan Usia Prasekolah
 JUDUL      :   Pendidikan Anak Prasekolah di TK PERWANIS

Bobby Andrean (16.160)
M. Ridho NST (16.165)
Tamara Dwi Astari (16.178)
Putri Dina Lorenza (16.185)
Putri Dwinastiti (16.200)
Karin Dira Amira (16.222)
Ifan Lubis (16.223)



BAB 1 :  PERENCANAAN

1.1              PENDAHULUAN
Pendidikan prasekolah adalah hal yang menarik perhatian orang tua, masyarakat, dan pemerintah sebagai pengambil keputusan. Seiring berkembangnya zaman, orang tua menyadari bahwa kualitas pada masa anak-anak (early childhood), termasuk masa prasekolah, merupakan cermin kualitas bangsa di masa depan.
Pada masa kini, kebanyakan orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah secepat mungkin dengan alasan agar anak pintar lebih cepat dari anak-anak lainnya. Yang menjadi fokus penelitian ini adalah apakah kegiatan atau pendidikan yang diberikan lembaga pendidikan prasekolah masa kini sudah sesuai dengan tahapan perkembangan atau kurikulum yang semestinya?

1.2              LANDASAN TEORI
1.2.1    Sejarah dan Tokoh
Sebagai ayah pendidikan anak usia bayi, Frederich Wilhelm Froebel, sangat mempengaruhi rancangan model sekolah prasekolah di seluruh dunia masa kini. Ia menciptakan garden of children atau kindergarten (Taman Kanak-Kanak) dimana pendidikan di dalamnya perlu mengikuti sifat anak pada masa itu, yaitu bermain. Hal penting lainnya adalah dasar bagi kurikulum yang dirancang Froebel, yaitu gift (objek yang dapat dipegang dan digunakan anak sesuai instruksi guru, sehingga anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran, warna, dan menghitung), occupation(materi untuk mengembangkan berbagai keterampilan, seperti menjahit sesuai pola, membuat bentuk mengikuti pola, menggunting, menggambar, menempel dan melipat kertas, dll), nyanyian, dan permainan yang mendidik.

1.2.2    Anak Prasekolah
Menurut Biechler dan Snowman (1993), anak prasekolah adalah anak usia 3-6 tahun. Snowman (1993) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah yang biasanya ada di TK. Ciri-ciri yang dikemukakan meliputi :
Ciri Fisik :
         Sangat aktif, menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri
         Kemampuan motorik kasar lebih berkembang daripada kemampuan motorik halus
         Memiliki kesulitan dalam memfokuskan pandangan pada objek kecil yang menyebabkan koordinasi tangan dan mata belum sempurna
        Anak laki-laki lebih terampil melakukan kegiatan motorik kasar, sedangkan anak perempuan lebih terampil melakukan kegiatan motorik halus

Ciri Sosial :
        Umumnya memiliki satu atau dua sahabat berjenis kelamin sama, namun cepat berganti karena anak sangat mudah menyesuaikan diri
         Kelompok bermain kecil dan tidak terstruktur
         Perselisihan sering terjadi namun tidak akan berlangsung lama, biasanya karena perebutan mainan
         Memiliki kesadaran akan gender dan sex typing

Ciri Emosional :
         Cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka dan lebih sering berperilaku               tempertantrum

Ciri Kognitif :
         Sudah terampil berbahasa dan sangat senang berbicara
         Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi sesuai dengan minat

1.2.3        Pendidikan Prasekolah
Menurut The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), pendidikan prasekolah (early childhood education) adalah pelayanan yang diberikan dalam tatanan masa kanak awal. Fungsi pendidikan prasekolah sendiri merupakan sebagai persiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih matang.
Menurut UU RI No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 (2), pendidikan prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasai pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.

1.2.4        Bermain
Menurut Bergen (1988), bermain dalam tatanan pendidikan prasekolah dapat digambarkan sebagai berikut :
       Bermain bebas ; kegiatan bermain dimana anak berkesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan memilih bagaimana menggunakan alat tsb
    Bermain dengan bimbingan ; kegiatan bermain dimana guru memilih alat dan anak dapat memilih untuk menggunakannya dengan konsep tertentu
      Bermain dengan diarahkan ; kegiatan bermain dimana guru mengajarkan bagaimana menyelesaikan suatu tugas khusus

Melalui kegiatan bermain, guru mendapat gambaran tentang tahap perkembangan dan kemampuan umum anak. Bentuk bermain tersebut :
Bermain Sosial
Dengan bentuk seperti ini, guru dapat melihat partisipasi anak dalam suatu kegiatan bermain dan akan menunjukkan derajat partisipasi berbeda. Parten (1932) dan Brewer (1992) menjelaskan berbagai derajat partisipasi anak :
        Solitary Play ; anak bermain sendiri tanpa menghiraukan anak lainnya
        Onlooker Play ; anak hanya sebagai penonton dalam permainan tersebut
     Parallel Play ; anak menggunakan mainan yang sama atau meniru cara anak lain bermain, namun tetap bermain sendiri
        Associative Play ; anak bermain bersama namun permainan tidak terstruktur
        Cooperative Play ; anak bermain bersama dengan aturan-aturan tertentu

1.2.5    Praktik Pendidikan Anak Prasekolah
Pada tahun 1986, NAEYC meneliti isu praktik yang cocok dikembangkan pada program masa awal anak-anak. Dalam suatu studi, anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah dengan praktik yang cocok menurut dokumen yang diterbitkan NAEYC memperlihatkan perilaku kelas yang lebih cocok dan kebiasaan belajar yang lebih baik (Hart & others, 1993).
KOMPONEN
PRAKTIK YANG COCOK
PRAKTIK YANG
TIDAK COCOK
Perkembangan bahasa, melek huruf, dan
perkembangan kognitif
Mendengar dan membaca cerita, bermain drama, mengikuti kunjungan lapangan, berbicara secara informal dengan anak-anak dan orang dewasa lain
Mengenal huruf tunggal, membaca alphabet, menyanyikan nyanyian alphabet, mewarnai sesuai pola, menulis huruf di atas pola yang sudah tercetak
Mengembangkan pemahaman konsep diri dengan berinteraksi dengan lingkungan, mencari solusi atas masalah konkret, mempelajari matematika, sains, ilmu sosial, kesehatan yang diintegrasikan melalui kegiatan bermakna
Pelajaran menekankan perkembangan keterampilan secara terpisah melalui ingatan. Perkembangan kognitif anak dilihat sebagai terkotak-kotak dalambidang pelajaran, dan jadwal disusun untuk setiap pelajaran itu
Perkembangan fisik
Mengembangkan otot besar melalui berlari, melompat, melakukan kegiatan di luar rumah dan direncanakan setiap hari
Peluang untuk mengembangkan otot besar terbatas karena belajar terfokus di dalam ruangan
Mengembangkan otot kecil melalui melukis, menggunting, dll
Kegiatan otot kecil terbatas pada menulis dengan pensil, mewarnai bentuk yang sudah digambar sebelumnya, dll
Perkembangan astetika dan motivasi
Mengekspresikan diri dengan seni dan musik difasilitasi oleh alat seni
Seni terdiri dari mewarnai sesuai contoh, menyanyi mengikuti arahan guru
Keingintahuan untuk memahami dunia digunakan untuk memotivasi anak untuk terlibat dalam belajar
Anak diwajibkan berpartisipasi, untuk memperoleh hadiah atau untuk menghindari hukuman
Namun semakin berkembangnya zaman juga menuntut perubahan praktik yang dilakukan oleh lembaga pendidikan prasekolah, namun tetap disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sehingga menghasilkan perilaku yang diinginkan serta menjadi persiapan yang matang untuk anak masuk ke kelas satu.

ALAT/BAHAN
Kamera
Notes
Pulpen

1.4 Analisa Data
            Data di peroleh melalui kegiatan observasi langsung di lembaga pendidikan prasekolah yang telah di tentukan. Data yang telah di peroleh akan diolah sesuai dengan teori pendidikan anak pra sekolah.

1.5 SAMPEL PENELITIAN DAN LOKASI PENGAMBILAN DATA
            Sampel : Siswa dan guru kelas TK A di TK Perwanis
            Tempat : TK PERWANIS Jln. Sei Batang serangan No. 4 Medan


JADWAL PELAKSANAAN
URAIAN
TANGGAL
Diskusi pemilihan topik
10 maret 2017
Diskusi pemilihan judul
17 Maret 2017
Observasi
23 Maret 2017
Pengolahan data
6 April 2017
Diskusi kelompok
6 April 2017
Pembuatan poster
8 April 2017
Posting Blog
9 April 2017

 BAB 2 : PELAKSANAAN
SISTEMATIS PELAKSANAAN PENELITIAN
10 Maret 2017 : Diskusi pemilihan topik
17 Maret 2017 : Diskusi pemilihan judul dan teori
23 Maret 2017 : Observasi
06 April 2017 : Pengolahan Data
06 April 2017 : Diskusi kelompok
08 April 2017 : Pembuatan poster
09 April 2017 : posting blog

BAB 3 : LAPORAN DAN EVALUASI
Laporan
1.      Jadwal Kegiatan (kamis 23 Maret 2017)
08.30 - 09.40 : Sesi kelas pertama
09.40 – 10.00 : Istirahat, Bermain bersama diluar kelas, cuci tangan dan berdoa
10.00 – 10.15 : makan bersama di dalam kelas
10-.15 – 11.00 : Sesi kelas kedua, Pulang
2.      Sistematika Observasi
·         Kelompok tiba di TK Perwanis pukul 08.30. anak anak sedang melangsungkan sesi kelas pertama.

·         Pukul 09.00 anak anak sedang mengerjakan soal yang ada di buku berupa mencocokan gambar satu dengan yang lain dan melukis.

Kelas yang berisi 15 orang, namun yang hadir hanya 12 orang pada hari Kamis, 23 Maret 2017. Kelas dipimpin oleh satu orang guru, yaitu Ibu Halimah. Kelas berukuran kurang lebih 5x5 m dengan tiga meja besar. Dinding kelas diisi dengan hasil karya anak-anak.


Pukul 09.40 anak-anak selesai sesi kelas pertama. Anak-anak diizinkan bermain di taman sekolah hingga pukul 10.00.



Pukul 10.00 anak-anak masuk ke kelas masing-masing dan makan bersama, sebelum makan mereka baca doa bersama. Kelompok menemani anak-anak makan sampai selesai.
Kelas yang berisi 15 orang, namun yang hadir hanya 12 orang pada hari Kamis, 23 Maret 2017. Kelas dipimpin oleh satu orang guru, yaitu Ibu Halimah. Kelas berukuran kurang lebih 5x5 m dengan tiga meja besar. Dinding kelas diisi dengan hasil karya anak-anak.
Setelah selesai makan, anak-anak membaca doa. (1) Bu Halimah membagikan puzzle kepada masing-masing anak. (2) Setelah selesai memasang puzzle Bu Halimah memanggil satu-satu anak untuk membaca iqra. (3) Setelah membaca iqra anak-anak menghitung dengan menggunakan tiga bahasa, yaitu; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab.
           
Beberapa anak yang mendapat perhatian khusus dari guru adalah:
1.      A : sulit menangkap pelajaran dan sulit berkonsentrasi
2.      O : lebih muda dari teman-teman yang lain sehingga belum terlalu jelas dalam berbahasa
3.      Z : lebih aktif

Pukul 11.00, anak-anak pulang. Jika anak-anak belum dijemput orang tuanya, mereka tidak diizinkan keluar dari halaman sekolah. Selagi menunggu orang tuanya, anak-anak diizinkan menghabiskan bekal makanan atau bermain.
A dan K bermain mobil-mobilan. AT hanya melihat mereka bermain. Dan yang lainnya bermain di taman.





EVALUASI
            Kegiatan prasekolah menurut dasar kurikulum Froebel :
·         Gift : objek yang dapat dipegang dan digunakan anak sesuai instruksi guru, sehingga anak dapat belajar tentang bentuk, ukuran, warna, dan menghitung. Anak-anak di TK Perwanis sudah menggunakan objek langsung.
·         Occupation : materi untuk mengembangkan keterampilan, seperti memasang puzzle, menghitung, menggambar, dan membuat bentuk mengikuti pola, dll. Anak-anak di TK Perwanis sudah memenuhi dasar kurikulum ini.
·         Nyanyian : anak-anak di TK Perwanis menggunakan nyanyian di dalam kelas dan menghitung dengan nyanyian.

Kegiatan prasekolah dilihat dari pemenuhan perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional :
·         Fisik : anak-anak di TK Perwanis berolahraga kecil dan menari sebelum masuk kelas. Selain itu, anak-anak pada saat istirahat diizinkan bermain, berlari, melompat, memanjat bersama dengan teman-temannya.
·         Kognitif : anak-anak di TK Perwanis melatih kognisi dengan melalui hafalan iqra, huruf, dan angka.
·         Sosioemosional : anak-anak di TK Perwanis melatih perkembangan sosioemosional melalui kegiatan bermain dengan teman-temannya. Mereka dilatih untuk berinteraksi dan menyesuaikan emosi mereka di lingkungan sekolah.


TESTIMONI
            Muhammad Ridho Nst (16-165)
            Menurut saya, tugas observasi ini sangat menyenangkan saya bisa mendapat pelajaran baru dan suasana baru. Saya bisa mengenal anak anak TK yang ramah dan baik dan juga guru guru TK ramah, saya banyak mengambil pelajaran dari lingkunag TK.

Tamara Dwi Astari (16-178)
            Menurut saya, tugas observasi kecil ini adalah hal yang baru dan merupakan tugas yang menyenangkan bagi saya, karena disini kami menggunakan anak-anak sebagai penelitian lucu dan menerima kelompok kami dengan sangat ramah dan baik. Sehingga membuat kelompok merasa ingin bermain lagi dengan mereka. Dan disisni saya tau bagaimana proses pembelajaran pada anak-anak tersebut.
           
Putri Dina Lorenza (16-185)
            Menurut saya observasi ini sangat menyenangkan saya bisa mengenal lingkungan TK dan anak anak TK yang bermacam ragam, saya jadi mengerti bagaimana pola perkembangan pembelajaran di TK.
            Putri Dwinastiti (16-200)
            Menurut saya, observasi ini cukup menyenangkan disamping saya bisa mengenal anak TK yang menyenangkan, ditambah dengan guru yang ramah, dan saya memetik pelajaran dari TK ini dan mengerti bagaimana proses pembelajaran pada anak-anak.
Karin Dira Amira (16-222)
            Menurut saya, tugas observasi ini adalah tugas yang menyenangkan, karena pada kesempatan ini saya menemukan hal-hal baru yang tidak biasanya saya temukan. Pada saat itu, saya banyak belajar tentang bagaimana cara kuta memperlakukan anak agar anak tersebut dapat memahami pelajaranya, dari situ saya belajar untuk melatih kesabaran saya terhadap anak-anak, dan melatih jiwa bersosialisasi saya dengan anak-anak.
           


Ifan Lubis (16-223)
            Menurut saya, tugas observasi ini adalah tugas yang menyenangkan karena saya dapat mengenal anak anak TK yang memiliki bermcam sifat, guru guru yang ramah juga lingkungan TK yang menyenangkan.

POSTER















LAMPIRAN




































DAFTAR PUSTAKA

Patmonodewo, DR. Soemiarti. 2000. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : PT. Rineka Cipta dan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Papalia, Diane E., Olds Sally Wendkos, Feldman Duskin Ruth. 2008. Human Development Edisi 10 Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika
Santrock, John W.. 2002. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 1,University of Texas at Dallas. Jakarta : Erlangga
Hurlock, Elizabeth B.. 1980. Developmental Psychology : A Life-Span Approach, Fifth Edition. Jakarta: Erlangga